Rabu, 16 Februari 2011

..Saat Harus Melepaskan..

pedih rasanya kalau harus merelakan orang yg kita sayangi pergi meninggalkan kita.. dewa 19 ajj bilang "separuh nafasku, terbang bersama dirimu..." (hehehhehe)

gag heran kalau raja Salomo mengibaratkan "cinta itu kuat seperti maut" (kidung agung 6:8). yayaya.. makanya ada yg nekat nelen baygon saat putus cinta. bego.

gag di pungkiri, baru membayanngkan hari2 tanpa "dia" itu memang menyakitkan. bagi saya pribadi, gag ada "dia" berarti gag ada orang yg bisa didiskriminasi tanpa takut dia marah, gag ada sarana buat ngelepasin rasa kesel, gag ada yg bisa di panggil "hasian" atau "kangen" atau "aqu sayang kamu".. intinya, menyedihkan banged mesti kepaksa ninggalin kebahagiaan bisa saling mengasihi satu sama lain.. hikss.. hikss

Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.

Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dgn yang lain.

Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.

Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat2 indah senantiasa terbayang dibenak kita.

Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata “Saya sangat mencintainya”.

daud pernah kehilangan anaknya dengan betsyeba (2samuel 12:14). daud meratap, memohon agar Tuhan mau menyembuhkan anaknya itu (2samuel 12:18) tapi, Tuhan tetap mengambil nyawa anak itu karna kesalahan yg daud lakukan (2samuel 12:18)

tapi, setelah keputusan Tuhan itu, daud tidak kecewa atau berputus asa. dia bangkit dan melanjutkan hidup denngan normal (2samuel 12:20-23).

saat mengalami hal yg sama, ayub dengan bijak berkata,

katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayb 1:21)

wow, renunngkan itu, kamu lahir tak membawa apa2, kelak,kamu pulang ke rumah Bapa pun tak akan membawa apa2. ngapain mati2an mempertahankan yg sudah tak lagi ingin bersamamu?

daud mengajari saya 1 hal, ada baiknya meratapi yg akan pergi, agar kita lebih bijak saat menentukan langkah selanjutnya. tapi, setelah hal itu benar2 terjadi, RELAKAN.

ingatlah..

kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tapi, saat cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya..

jangan larut pada kesedihan, itu hanya akan membuatmu kehilangan banyak sukacita yg Tuhan sediakan..

bayangkan apabila daud bersikeras bersedih saat kehilangan anak yg ia kasihi,mungkinjanji Tuhan untuk membangkitkan raja2 hebat dari keturunannya tak akan tergenapi. setelah anak pertamanya dengan betsyeba itu mati, lahirlah Salomo. wow.

kalau kamu gag mengikuti jejak daud untuk terus melangkah ke depan dan merelakan yg terjadidi belakangn,janji Tuhan tentang masa depan yg cerah bagi hidupmu mungkin gag akan tergenapi. hei, Yesus mengasihimu lebih dari siapapun yg pernah kamujumpai dalam hidupmu. cintaNya yang dalam membuat Dia rela mati dikayu salib. Dia gag peduli rupamu, kesalahanmu, kebiasaan burukmu, yg Dia tau kamu pasti kan berusaha sebaikmungkin merubah semuanya sedikit demi sedikit. Dia akan dengan senang hati membimbingmu melewati proses pahit yg harus kamu alami. percayalah, Dia tak akan memberimu ular beracun saat kamu meminta roti..

Bapa sering menguji kita dengan penderitaan dan kesedihan. Dia menguji kita, bukan menghukum kita. Dia menolong kita menjumpai hari esok.

Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kepedihan kita, Karena setiap kehilangan yang Ia kirimkan diikuti dengan keuntungan yang berlimpah - limpah.

Dan jika kita menghitung rahmat dan berkat, Yang Allah kirimkan secara cuma - cuma, Kita tidak akan menemukan alasan untuk mengeluh Dan tidak ada waktu untuk meratap…

ingatlah !! Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru…

Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.

Kita harus melepaskan seseorang karena kita menyadari yang ganteng,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik buat kita.

Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Kita harus melepaskan seseorang ketika saat2 indah hanyalah tinggal masa lalu.

Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kita berkata “tidak ada lagi yang dapat dipertahankan”.

Kegagalan tidak berarti kamu tidak mencapai apa2… namun kamu telah memahami sesuatu…! Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan…!!

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.. pkh 3:1

BE DIFFERENT, BE RADICALLE....
ALWAYZ BE BLEZzeD...

~JElous~

Yak 5:16
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya


Jbu

Belajar dari Burung dan Cacing

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ? Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi? Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar banyak dari burung dan cacing.

Gbu

Minggu, 13 Februari 2011

Tegar di Masa Sukar

Tegar di Masa Sukar


Seluruh umat manusia di muka bumi ini tanpa terkecuali mengalami satu situasi, yang semakin sulit. Segala aspek yang ada tidak ada yang terhindar dari kata sulit,semua serba susah dan menyentuh titik krisis. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terahir akan datang masa yang sukar. (2Tim. 3:1)
Hal serupa juga dialami oleh orang orang percaya (gereja), satu situasi yang memang sudah dinubuatkan dalam Alkitab, sebut saja dalam 2Tim. 3:1, pada hari–hari terahir akan datang masa yang sukar; Efesus 6:10—Paulus menguatkan jemaat efesus untuk kuat, dalam ayat 12 dikatakan kita menghadapi perang.
Sebagai orang percaya yang mempunyai sandaran firman Tuhan,situasi sulit yang dihadapi tentunya tidak melemahakan iman kita,karena Tuhan lewat FirmanNya memang memberikan kiat-kiat dalam menghadapi masa-masa sukar itu,dalam pendalaman Alkitab kali ini, kita membahas 3 (tiga) kiat menghadapi hal-hal yang menyulitkan dan membuat sesak hidup ini. Kiat tersebut adalah:

1. Berdoa.

Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah dengan berdoa masalah Kita akan segera berakhir? Melihat hal ini Yak. 5:16 mengatakan doa-doa orang benar sangat besar kuasanya, jika dilakukan dengan iman. Ternyata ada persyaratan dalam kita berdoa yaitu iman, iman yang menguatkan hati kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. (Luk. 1:37; Mat. 21:22)
Lepas dari itu langkah doa adalah satu nasehat yang Tuhan sendiri berikan kepada kita. Saat Daniel menghadapi masalah dalam kepentingan ibadah, Daniel tetap berdoa, karena ia yakin bahwa Tuhan pasti memberikan jalan keluar terhadap masalahnya.
Salomo mengingatkan dalam ayatnya yang terkenal Ams. 3:5-6 percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati, termasuk dalam hal doa, kita berdoa karena memang kita tidak punya daya apa-apa, untuk melakukan sesuatu, semua karena pertolongan Tuhan. Mzm. 127:1,2
Kita harus bersyukur, karena dapat mengambil langkah (kiat) untuk berdoa, karena tidak semua manusia mampunyai kiat seperti ini, dengan berdoa masalah kita dapat selesai. Paulus dan Silas mengambil langkah berdoa saat mereka harus menghadapi kurungan dan belenggu (Kis. 16:25). Lewat doa setiap ikatan (hal-hal yang sulit) dapat terlepas.

2.Mengaku dengan jujur/tulus atas setiap dosa dan pelanggaran kita.

Ananias dan Safira gagal (Kis. 5:1-11), karena mereka tidak jujur atas dosa mereka, kita harus menyadari dosa membawa kerugian yang sangat besar. Yer. 5:25 bahkan dosa mendatangkan pemisahan hidup kita dengan Allah (maut), Rm. 6:23; Yeh. 18:20. Dalam rumus kitab Taurat, seorang yang mengalami satu kesalahan/pelangaran harus dikenai hukuman yang setimpal (misal mata ganti mata gigi ganti gigi) tetapi syukur kepada kita yang mendapat kasih karunia Tuhan Yesus, mati bagi kita menghapus segala dosa pelangaran kita.
Daud menyadari kekeliruannya yang besar dalam hidupnya Mzm. 51:5, skandalnya dengan Betsyeba membuat hubungannya dengan Allah rusak oleh sebab itu ia mengaku dengan jujur dan tulus setiap kesalahan, dan langkah selanjutnya yang diambil oleh Daud adalah memohon ampun kepada Allah. (Mzm 32:5; Bil. 5:5-7).
Kitab Taurat telah menentukan tentang pengakuan dosa karena kita sudah mengerti dosa membawa kerugian yang sangat besar. (Yes. 59:1,2; 2Kor. 7:10; Mzm. 51:1-9). Kita juga harus mempunyai sikap meyakini pemgampunan Allah yang luar biasa Mzm. 130:3,4 ;103:12.

3.Teguhkan hati melalui janji-janji-Nya, karena Allah bukan manusia terhadap janji itu.

Bil. 23:19—Dengan keteguhan hati hidup kita akan lebih dipenuhi dengan semangat dan kepercayaan yang tinggi terhjadap janji-janji Allah. Ams. 14:8 saat Elia mengalami lemah iman menghadapi Izebel, Allah menguatkan hati dan memulihkan jiwa hidup Elia. Hanya Allah dapat memberikan semangat seperti yang diungkap dalam Yes. 40:28-31. Daud sukses mengalalahkn Goliat, karena ia yakin akan kebesaran Allah, jadi taguhkan hati kita terhadap janji-janji Allah.

Firman Tuhan sudah memberikan langkah (kiat-kiat) bagi kita untuk menghadapi masalah hari-hari yang semakin sulit dan sukar ini, percaya Tuhan Yesus mampu menolong kita, janji-Nya tidak pernah dan akan berubah, Amin. *

Selamat Beribadah
Tuhan Yesus Memberkati.

Sabtu, 12 Februari 2011

Kehendak-Mu Yang Jadi

Shalom.....

Seorang ibu yang mempunyai anak tunggal datang kepada seorang Hamba Tuhan dan mengutarakan isi hatinya. Pendeta, " Waktu saya berdoa, saya selalu takut untuk mengatakan kepada Tuhan, kehendakMu yang jadi. " Karena saya takut Tuhan akan mengambil anak saya satu-satunya dan juga mungkin memberikan pencobaan-pencobaan yang berat.
Nampaknya pendapat ibu ini cukup beralasan, tetapi Hamba Tuhan tersebut menjawab, "Seandainya anak ibu datang kepada anda dan anak itu mengatakan ingin melakukan apa saja yang meyenangkan hati anda, apakah anda berpikir untuk membebani anak tersebut dengan pekerjaan berat yang tidak sanggup dilakukan oleh anak ibu?" "Oh... tidak." Kata ibu itu, ‘ tentu saja saya akan memberikan pekerjaan yang dapat ia kerjakan dan yang tidak akan membuatnya celaka." Lalu hamba Tuhan itu menegaskan "Apakah anda berpikir bahwa Tuhan yang penuh kasih itu tidak mempunya hati yang lebih baik daripada hati anda?"

Terlalu sering kita merasa takut mengatakan kepada Tuhan "KehendakMu yang jadi," kita berpikir kalau berkata demikian kita akan mendapat masalah atau pergumulan yang berat. Tuhan melebihi manusia yang paling baik sekalipun. Masihkah kita harus takut untuk berkata," Biarlah kehendak-Mu yang jadi' kepada Allah?
Jika kita berkata," Biarlah kehendak-Mu yang terjadi," itu berarti kita mengijinkan rencana Allah yang indah itu terjadi di dalam kehidupan kita. Dan itu juga berarti kita siap melihat hal-hal yang terbaik yang diberikan Allah untuk kita semua.
Segala sesuatu yang datang dari Tuhan adalah indah dan tidak pernah mencelakakan anak-anak-Nya, tetapi mendatangkan kebaikan.

"Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Sorga!"
( Matius 7:11 )

Tuhan Yesus memberkati.....

Perbedaan Persepsi

Shalom......

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :

- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :

"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".
"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :

"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut".

"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."

"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita... pilihan ada di tangan kita.....

Tuhan Yesus memberkati......

Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku

Amsal 30:7-8 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.

Ini adalah potongan dari doa seorang yang bernama Agur bin Yake dari Masa. Agur berdoa agar ia tidak diberikan kemiskinan atau kekayaan. Setiap orang pasti setuju dengan Agur agar tidak di berikan kemiskinan oleh Tuhan karena semua orang tidak mau miskin dan sengsara. Setiap orang pasti ingin menikmati hidup yang berkecukupan. Tetapi bagaimana dengan doa supaya Tuhan tidak memberikan kekayaan??? Wow, tidak! Jangan deh!. Mungkin kata ini banyak di ucapkan karena pada umumnya setiap orang ingin kaya. Demi mengejar kekayaan banyak orang rela berjerih lelah dan bekerja keras bahkan banyak juga demi memperoleh kekayaan menghalalkan berbagai cara. Ada yang melakukan “pesugihan” ada pula yang melakukannya dengan Korupsi, karena dalam anggapan mereka dalam kekayaan ada kekuasaan dan kemuliaan, itulah sebabnya mereka rela mati-matian memperolehnya.

Saudara, permohonan doa ini menunjukkan bahwa Agur adalah seorang yang ingin hidup jujur dan benar. Ia tidak ingin memiliki sesuatu yang bukan menjadi haknya. Sungguh luar biasa doa ini! Doa yang patut di teladani dan dimintakan oleh setiap orang. Jika setiap orang berdoa seperti ini maka tidak akan terjadi korupsi di negeri ini.

Saya teringat pernah seorang sahabat yang kebetulan memiliki jabatan yang lumayan di perusahaan perbankan yang mengatakan bahwa doa ini telah banyak menolong dia untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Bagi orang dunia, posisi beliau adalah tempat “basah” karena memiliki banyak kesempatan untuk memiliki uang masuk (dari yang tidak benar tentunya). Tapi satu hal yang sahabat ini lakukan, Ia menuliskan doa Agur bin Yake ini pada secarik kertas dan menaruhkannya di meja kerjanya tepat di hadapannya. Jadi setiap menandatangani dan menyetujui sesuatu, ia akan melihat kertas ini, dan hal itu menghindarkan dia dari sesuatu perbuatan yang tidak baik. Doa ini pula yang telah menolong saya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak benar terlebih mengambil yang bukan menjadi hak saya. Saya sungguh di berkati dengan doa ini dan biarlah doa ini juga menjadi berkat bagi kita semua.

Apa latar belakang Agur memanjatkan doa ini? Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Amsal 30:9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Dari ayat diatas kita lihat bahwa latar belakang doa Agur agar dia tidak menjadi sombong dan mencemarkan nama Tuhan. Sungguh luar biasa! Agur menyadari bahwa kekayaan dapat membuat ia sombong. Hal itu memang benar karena banyak orang kaya yang menjadi sombong. Pada umumnya orang kaya sering memandang rendah orang lain terutama orang-orang miskin. Orang kaya sering merasa dengan kekayaannya dia telah memiliki kekuasaan dan kemuliaan sehingga ia merasa tidak memerlukan orang lain dan ada juga yang merasa tidak memerlukan Tuhan. Ada orang kaya yang mengaku Kristen tetapi pada hari minggu lebih memilih menjalankan bisnisnya daripada datang beribadah kepada Tuhan. Bukankah hal demikian menunjukkan bahwa dia tidak membutuhkan Tuhan, mengejar peluang bisnis lebih penting dari pada mencari hadirat Tuhan.

Kesombongan adalah dosa yang paling di benci Tuhan. Kesombongan membuat orang ingin di hormati dan di muliakan oleh orang lain dan hal ini sama dengan memberhalakan diri sendiri. Menyembah berhala saja sudah dosa yang keji apalagi memberhalakan dengan kata lain men-tuhankan diri sendiri.

Dari ayat diatas kita juga melihat bahwa Agur tidak ingin di beri kemiskinan karena kemiskinan dapat membuat Agur mencemarkan nama Tuhan. Kemiskinan dapat membuat orang yang tadinya takut akan Tuhan dan rajin beribadah kepada Tuhan menjadi tidak takut lagi dan melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji yang mempermalukan Tuhan.

Lalu apa yang harus menjadi doa kita? Doa kita adalah “Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku”. Inti dari doa ini adalah agar Tuhan memberikan hati yang memiliki rasa cukup, rasa syukur, tidak tamak serta tidak cinta akan uang. Karena cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

I Timotius 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Oleh sebab itu marilah kita belajar dan berdoa seperti Agur bin Yake agar kita dapat hidup benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

Kamis, 10 Februari 2011

Memikul Salib-Nya

Ada 3 orang; A, B ,dan C di beri tugas oleh Tuhan untuk memikul salib yang sama besar dan sangat berat menuju puncak sebuah bukit. Di sana Tuhan berjanji akan menjemput mereka ke Surga. Di tengah jalan ketiga orang itu melihat sebuah gergaji, si B mulai berpikir dan menghasut kedua temannya untuk memotong salib mereka supaya salib itu menjadi ringan.

Namun kedua temannya tidak menuruti usul si B karena mereka taat dan mengasihi Tuhan.

Kasih mereka kepada Tuhan membuat mereka mau dan rela memikul tanggung jawab yang Tuhan sudah berikan tanpa keluhan.

Singkat cerita si B memotong salibnya, sehingga dengan mudah ia mendahului kedua temannya. Sampai dipuncak bukit, si B melihat sebuah jurang yang teramat lebar memisahkan puncak bukit itu dengan gerbang Surga. Di seberang jurang terlihat malaikat Tuhan yang sudah menanti kedatangan mereka.

Dengan bersemangat si B menanyakan jalan mana yang bisa dipakainya untuk sampai ke gerbang Surga, tapi malaikat Tuhan itu menjawab, "Tuhan sudah sediakan jalan itu".

Si B sangat bingung karena dia sama sekali tidak melihat jalan yang dimaksud sang malaikat Tuhan.

Beberapa saat kemudian, si A dan C tiba di puncak bukit tersebut.

Seperti halnya si B, mereka bertanya tentang jalan ke seberang pada malaikat Tuhan, mereka mendapatkan jawaban yang sama, "Tuhan sudah menyediakan jalan itu".

Kemudian Roh Kudus bukakan pikiran mereka berdua dan mereka mengerti sesuatu, ukuran salib yang berat dan besar itu sudah Tuhan buat tepat sama dengan jarak antara puncak bukit dan terbang Surga, itulah jalan yang Tuhan sudah sediakan.

Mereka segera sadar akan hal itu dan bergegas meletakkan salib mereka dan mulai menyeberang. Si B kebingungan karena salib yang Tuhan beri untuk dia sudah dia potong hingga tidak bisa berfungsi sebagai jembatan. Namun dipikirnya dia dapat meminjam salib A atau C untuk menyeberang. Tapi sungguh kasihan, begitu A dan C selesai menyeberang dengan salib mereka, salib itu tiba-tiba menghilang, itu berarti si B tidak dapat menyeberang ke pintu Surga.....

Dari ilustrasi ini, ditunjukkan bahwa seringkali kita menganggap Tuhan begitu kejam mengijinkan "salib" itu ada dalam hidup kita, kita juga sering mengeluh karena sepertinya pemrosesan (yang pahit) itu tidak kunjung selesai. Akibatnya kita terlalu sering mencari jalan keluar sendiri dan tidak mau taat pada Tuhan, sehingga memotong salib yang seharusnya kita pikul. Namun, justru "salib" itulah yang akan menolong kita mengerti akan kasih Tuhan pada kita.

Ia ijinkan kita mengalami pemrosesan yang sulit supaya kita menjadi semakin sempurna.



elia story
Free Blogger Templates